Sabtu, 09 Mei 2026

Rukun yang Patah

"RUKUN YANG PATAH"

Dia tidak pernah berdoa untuk rasa itu. 
Tidak pernah sujud minta dititipkan. 
Tidak pernah menengadah, “Ya Tuhan, beri aku ini.” 

Tapi pagi itu, rasa itu ada. 
Tumbuh diam-diam di rusuk kiri. 
Seperti rumput liar di tanah kuburan. 
Tidak diundang, tapi hidup. 

Dia cari dalil. Dibolak-balik kitab dari kulit ke kulit. 
Dari mimbar ke mimbar. Dari fatwa ke fatwa. 
Semua berkata: _Haram._ 
Semua berkata: _Laknat._ 
Semua berkata: _Tuhan tidak menciptakan jalan untuk ini._ 

Lalu Tuhan sodorkan dua neraka untuk dipilih.

*Jalan Pertama: Cinta.* 
Pergi ke kota besar. Hidup bersama dia. Menjalin kasih. 
Di kota, orang terlalu sibuk untuk peduli. 
Atau pulang kampung. Membajak sawah berdua. Jadi partner kerja. 
Satu lelaki tidak menikah, orang bilang _bujang lapuk_. 
Dua lelaki dewasa serumah, orang bilang _kebetulan yang terencana_. 

"Tapi memilih jalan ini artinya mengubur sajadah. 
Karena bagaimana caranya? 
Sholat Jum’at siang hari, sore-nya memeluk dia? 
Sholat Ashar sore hari, malamnya bercinta dengan dia? 
Tuhan mana yang mau didatangi dengan tangan kiri masih basah oleh dosa, 
sementara tangan kanan baru saja menyentuh dahi di sajadah?"

*Jalan Kedua: Kubur.* 
Kubur rasa itu dalam-dalam. 
Jangan kasih makan. Jangan kasih minum. 
Biar mati pelan-pelan di dalam dada. 
Hidup jadi mayat berjalan. Bernafas, tapi tidak hidup. 

Dan di tengah malam, dia teriak ke langit: 
“Kenapa saya berbeda?” 
“Kenapa harus saya?” 

Lalu entah dari mana, ada suara menjawab. 
Bukan dari langit. Dari dalam dadanya sendiri: 

“Mungkin karena kamu spesial. 
Kamu orang pilihan. 
Karma kamu sanggup. 
Sebab jika rasa ini Kupikulkan ke lelaki tetangga sebelahmu, 
mungkin dia sudah gila minggu lalu. 
Mungkin dia sudah gantung diri bulan lalu. 
Tapi kamu... kamu masih di sini. Masih nanya".

Writen by:
             Husen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar