Sabtu, 09 Mei 2026

LAUT SIJJIN(1Hari=1000Tahun)

LAUT SIJJIN(1Hari =1000 Tahun) Sore menggantung seperti algojo yang sabar. Seorang lelaki mengikat perutnya dengan lapar yang disengaja. Biar rapuh. Biar maut nggak perlu ngetuk dua kali. Hanya sebotol air di tangan. Diteguk setetes demi satu penyesalan. Berjalan di bibir ombak. Mondar-mandir di antara hidup dan takut. Langit memucat. Tapi dadanya lebih pucat lagi. Malam datang tanpa bulan. Duduk. Menyalakan rokok seperti menyalakan lilin untuk arwahnya sendiri. Di sisinya, foto usang terbaring. Bayi mungil dengan mata langit. Tawa bayi itu masih nyangkut di batok kepalanya, nggak bisa dicabut. Nama istrinya jadi beling tiap kali dipanggil dalam hati. Perempuan manis yang senyumnya dulu bisa menjinakkan Tuhan. Kini tinggal kertas yang digerogoti garam dan rindu. Menunggu subuh. Menunggu Tuhan atau iblis memanggil lebih dulu. Adzan pertama merobek selaput malam. Berdiri. Meninggalkan bara rokok yang mendesis pelan di pasir, seperti napas terakhir seorang saksi. Laut memanggil dengan lidah asinnya. Berenang. Menjauhi daratan. Menjauhi nama. Langkah pertama. Air sebetis. Dinginnya sembilu. Langkah kedua. Air sepaha. Kutukan mulai mencengkeram. Terjun. Berenang. PAGI Matahari naik seperti hakim yang tak punya ampun. Kulitnya mulai terbakar. Perih. Tapi lebih perih lagi ingatan tentang senyum yang dulu bisa menyembuhkan dunia. Mendongak. Langit terlalu luas untuk dosanya. Benamkan kepala. Menantang laut. Tapi paru-paru pengkhianat ini memberontak. Memaksanya timbul, menghirup udara yang sudah dia haramkan. Udara masuk seperti beling. SIANG Matahari tepat di ubun-ubun. Menusuk sampai ke otak. Laut jadi wajan raksasa. Asinnya masuk ke mata, ke luka, ke jiwa. Tenaganya disedot matahari. Lengan serasa timah. Tapi terus mengayuh. Karena berhenti berarti mengingat. Dan mengingat lebih sakit dari mati. SORE Matahari berdarah di barat. Tenaganya habis. Telentang. Pasrah. Membiarkan tubuhnya jadi mainan ombak. Bibirnya pecah-pecah. Lidahnya bengkak. Setiap tegukan air laut yang tak sengaja masuk adalah racun yang membakar tenggorokan. Terpejam. Berdoa biar tidak bangun lagi. Takut gelap. Malam sendirian di laut dengan seribu misterinya lebih menakutkan dari mati. Sementara masih bernapas. MALAM Dan malam datang. Bukan dengan bintang. Dengan gigi. Gelapnya punya berat. Punya napas besi di tengkuk. Sendirian. Di tengah samudra. Di tengah hukuman. Detak jantungnya adalah satu-satunya suara yang membuktikan masih terkutuk untuk hidup. Mengambang. Mati rasa. Jiwanya sudah lepas, tinggal tubuh yang disewa iblis untuk disiksa. Lalu air di bawahnya berubah. Bukan dingin ombak. Dingin kuburan. Dingin dari dasar Sijjin. Byurr Sesuatu menyibak air di dekat kaki. Menoleh. Cepat. Kosong. Hanya riak hitam. Sreeek. Kali ini di punggung. Seperti kuku panjang menyeret kulit. Menjerit. Laut meminum suaranya bulat-bulat. Jantungnya berdentam menabrak tulang rusuk. _Mereka datang. Mereka datang untukku._ Lalu cengkeramannya tiba. Lima jari es, panjang dan kurus, melingkar di pergelangan kaki. Kekuatannya bukan dari dunia ini. Menyeret. Ke bawah. Ke dalam gelap yang tak berdasar. Air masuk ke hidung. Ke mata. Meronta. Menendang. Meninju kekosongan. Tapi cengkeraman itu seperti takdir. Tidak bisa dilawan. Di tengah panik yang membutakan, dilihatnya. Malaikat maut itu datang. Bukan dengan jubah. Dengan sirip. Bayangan hitam segunung di bawahnya melesat naik. Cepat. Diam. Mati. _JEGERRR!!!_ Dunia meledak jadi warna putih. Sakit. Tuhan, sakitnya. Gigi pertama menghantam betis. Bukan disobek. Dilumat. Merasakan dengan sangat jelas bagaimana gigi-gigi segitiga itu menembus kulit, menyayat otot, menyerempet tulang kering. Suara _kretek_ dari dalam dagingnya sendiri terdengar sampai ke otaknya. Melolong. Tapi di dalam air, lolongannya cuma gelembung-gelembung darah. Rahang kedua mengunci paha. Mengguncang. Seperti anjing mengoyak boneka kain. Merasakan tulangnya patah. Bukan patah biasa. Remuk. Jadi bubur. Jadi puisi yang salah tulis oleh Tuhan. Urat-uratnya putus satu-satu. _Ting. Ting. Ting._ Seperti dawai harpa yang dipetik setan. Laut di sekitarnya mendidih. Merah. Hangat. Kental. Bau anyir besi memenuhi seluruh rongga kepalanya. Melihat dengan matanya sendiri serpihan dagingnya melayang-layang di air seperti konfeti di pesta kematian. Dia adalah sajen. Yang ditolak langit, dikunyah bumi. Husen Dia tersentak. Ternyata cuma mimpi. Halusinasi yang dilahirkan lapar dan putus asa. Hiu itu nggak pernah ada. Cuma dia. Bidak kecil di papan catur badai. Petir mencambuk langit. Hujan adalah ribuan jarum es yang menghujam kulit. Akhirnya kalah. Tubuh tenggelam. Air masuk, bukan seperti air, tapi seperti beling cair yang menggergaji paru-paru dari dalam. Gelap yang sempurna. Lalu waktu RETAK Subuh lagi. Rokok lagi. Langkah lagi. Tapi kali ini, entah badai ke berapa, di tengah siksaannya, dia melihat tubuh lain. Pasrah, dihantam ombak. Sesuatu yang mati di dalam dirinya justru hidup. Ditariknya. Diseretnya. Melawan takdir satu meter demi satu meter sampai pasir. Mata orang itu membuka sekilas, merekam wajahnya. Husen berbalik. Berenang lagi. Laut adalah rumah, dan neraka pribadinya. --- _Beberapa subuh kemudian._ Langkah kaki. Suara itu tidak dia kenal. Berat. Tapi ragu-ragu, seperti orang yang takut menginjak kuburan. Tidak menoleh. Matanya tetap ke laut. Ke arah mautnya pulang pergi. "Sendirian aja," kata suara itu. Jeda. Napas. "Boleh saya temenin?" Kalimat itu aneh. Tidak bertanya nama. Tidak menawarkan tolong. Cuma minta izin untuk ada. Untuk pertama kalinya, Husen merasa ditanyai, bukan dihukum. Mengangguk. Gerak terkecil dari jiwa yang sudah lelah. Lelaki itu duduk. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Jarak orang yang tau cara duduk di sebelah luka. Mengulurkan tangan yang hangat. Hangatnya keterlaluan. Husen hampir menarik tangannya sendiri karena lupa rasanya. "Nama saya Alman," katanya pelan. "Nama situ siapa?" Hening. Hanya debur ombak. Membuka mulut. Nama itu karatan di lidah. "Husen," jawabnya. Suaranya serak. "Husen bin Sali." Nama itu jatuh di antara mereka. Nama yang sudah seribu badai tidak dipanggil manusia. Alman diam. Lama. Menatap Husen. Bukan menatap wajah. Menatap lubang di dalam wajah itu. Lubang tempat nama istri dan anaknya membusuk. Lalu suara Alman pecah. Tidak nangis. Pecah seperti kaca yang akhirnya tidak kuat nahan beban. "Terima kasih," bisiknya. "Sudah menyelamatkan saya." Tetap menatap cakrawala yang belum lahir. Dadanya sesak. Kalimat itu sederhana. Tapi seribu badai tidak ada yang bilang begitu kepadanya. Tidak ada yang bilang dia berguna. Air mata jatuh tanpa izin. Dingin. Jatoh ke pasir. Pasir tidak protes. "Kapan kamu akan datang lagi?" tanya Husen tiba-tiba. Lalu hening, Alman menunduk. Ragu. Sedih. Karena dia tau dia nggak bisa tinggal. Dia punya lautnya sendiri untuk diarungi. Punya anak yang nunggu di rumah. "Saya bukan penduduk sini," jawab Alman akhirnya. Suaranya seperti orang yang lagi nanam pohon, bukan seperti orang yang lagi janji. "Saya nggak bisa janji tiap hari datang." Mengangguk. "Tapi," lanjut Alman. Natap mata Husen lurus-lurus. "Namamu, Husen bin Sali..." Jeda. Narik napas. Bukan napas buat ngomong. Napas buat ngiket sesuatu di tulang. "...akan saya sebut. Tiap malam. Di lidah saya. Di lidah anak saya. lidah cucu saya, sampe 7 turunan, Selama darah saya masih jalan. Selama semua keturunan saya masih ada" Alman Seperti sumpah, Menatap Husen tajam. "Apa saya perlu kasih tau keluargamu?" Ombak naik, mencium kakinya. Panggilan itu datang lagi. Tarikannya lebih kuat dari tadi. Laut cemburu. "Sudah waktunya saya harus pergi," bisik Husen. Artinya: laut memanggil pulang. Alman menyodorkan senter anti air dengan tangan gemetar. Alman menangis. Lelaki menyelamatkan lelaki, dan keduanya hancur karenanya. Karena yang satu nggak bisa tinggal, yang satu nggak bisa ikut. --- _ Subuh yang lain._ Duduk di tempat yang sama. Senter di tangannya sudah karatan. Cahayanya megap-megap seperti nyawanya sendiri. Nengok ke belakang. Jalan setapak ke arah bakau kosong. Kosongnya keterlaluan. Kosongnya punya suara. Nggak nengok lagi. Buat apa. Harapannya sudah patah. Patahnya tidak bunyi. Cuma remuk di dalam dada. Sepi, menunggu, dan patah itu sekarang tinggal serumah di tulangnya. Nggak bisa diusir. 50, tahun kemudian Badai terus datang. Husen tetap muda. Tetap berenang. Kutukan atau ibadah, dia tak tahu lagi. --- _Hingga satu subuh._ Namanya diucapkan lagi. Lengkap. "Husen bin Sali." Dunia Husen berhenti muter. Senter karat di tangannya jatuh. Cahayanya padam di pasir, kalah oleh fajar. 18 juta tahun di laut bikin badannya bergerak sendiri. Kaki mundur selangkah. Bahu merunduk. Otaknya teriak: _Tipu. Ini hiu. Hiu pinter. Sekarang bisa ngomong. Bisa nyebut nama buat ngibul._ Tapi lelaki di depannya tetap maju. Satu langkah. Debu pasir naik di antara mereka. Debu seribu badai. Lelaki itu berhenti satu napas di depan Husen. Jantung Husen yang sudah seribu badai beku, sekarang dipukul pake palu. Laki laki itu Melangkah lagi. Lalu memeluknya. "Saya anak almarhum bapak Alman." Pelukan itu nyata. Hangat. Manusia. Lengan yang bau matahari, bau keringet, bau hidup. Bukan bau amis. Bukan bau maut. Bahu Husen yang selama 18 Juta tahum di hantam, badai hanya disentuh air asin dan maut, kini diguncang isak yang nyata. Isak anak dari orang yang nggak pernah dia tagih, tapi nggak pernah berhenti nyebut namanya. "Bapak titip pesan sebelum pergi," bisik laki laki muda itu di kupingnya. Suaranya hancur. "Katanya sehari bagi kita. Tapi buat Husen, itu seribu tahun." Narik napas di bahu Husen. Napasnya anget. Napas orang hidup. "Katanya doa kami udah nyampe. Langit udah buka pintu buat Husen bin Sali." Untuk pertama kalinya dalam seribu badai, Husen bin Sali gemetar bukan karena dingin. Gemetar karena didatangi. Karena diinget. Karena dibilang boleh pulang. "Nggak usah berenang lagi," lanjut nya. Tangannya mengusap punggung Husen yang basah. Pelan. "Bapak, anak-anak bapak, cucu-cucu bapak... kami sebut namamu tiap malam." dia narik napas lagi. "Udah cukup. Sekarang giliran kamu istirahat." Air mata Husen jatuh. Tapi aneh. Rasanya tidak asin. Rasanya seperti air pertama kali dia minum waktu kecil. Laut di dalam dadanya, yang selama ini bergelora menuntut nyawanya sendiri, mendadak surut. Tenang. Damai. Tidak ada ombak. Tidak ada tarikan. Menengadah. Langit subuh tak lagi memunggunginya. Langitnya sama dengan langit di foto istrinya dulu. Luas. Tapi sekarang tidak menghakimi. Ada suara, entah dari mana, memanggil namanya tanpa murka. Perlahan, kakinya yang dulu selalu ditarik ombak kini terasa ringan. Untuk pertama kalinya, pasir tidak panas. Tidak dingin. Pasirnya pas. Seperti tanah. Husen bin Sali tidak lagi berenang. Untuk pertama kalinya, laut melepasnya. Dia pulang. --- *SELESAI.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar